TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
Lintang Rasti Jauza
Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai
E -mail: lintangrstjauza28@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengkaji teori struktural fungsional dalam
pendekatan sosiologi dan antropologi pendidikan dengan meninjau konteks
pendidikan Islam, khususnya dalam memahami peran lembaga pendidikan sebagai
sistem sosial yang menjaga keteraturan, nilai, dan keberlanjutan budaya Islam.
Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan
menganalisis karya klasik dan kontemporer sosiologi–antropologi pendidikan
serta literatur pendidikan Islam. Novelty penelitian ini terletak pada upaya
mengintegrasikan teori struktural fungsional Barat dengan konsep pendidikan
Islam seperti adab, nilai moral, dan fungsi sosial pendidikan sebagai pembentuk
insan berakhlak. Riset gap yang ditemukan adalah masih terbatasnya kajian yang
secara eksplisit mengaitkan teori struktural fungsional dengan perspektif
sosiologi antropologi pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pendidikan Islam berfungsi sebagai agen sosialisasi, transmisi nilai, dan
penjaga keseimbangan sosial umat. Rekomendasinya, teori ini perlu
dikontekstualisasikan secara kritis agar relevan dengan dinamika masyarakat
Muslim kontemporer.
Kata kunci: struktural fungsional, sosiologi pendidikan, antropologi
pendidikan, pendidikan Islam, fungsi sosial pendidikan
Abstract
This study aims to examine structural-functional theory within the
sociological and anthropological approaches of education by examining the
context of Islamic education, particularly in understanding the role of
educational institutions as social systems that maintain order, values, and the
sustainability of Islamic culture. The method used is library research,
analyzing classical and contemporary works on the sociology and anthropology of
education, as well as Islamic education literature. The novelty of this
research lies in its attempt to integrate Western structural-functional theory
with Islamic educational concepts such as adab (ethics), moral values, and the
social function of education in shaping moral individuals. The research gap
identified is the limited number of studies that explicitly link
structural-functional theory with the sociological and anthropological
perspective of Islamic education. The results indicate that Islamic education
functions as an agent of socialization, transmitting values, and maintaining
social balance within the community. It is recommended that this theory be
critically contextualized to ensure its relevance to the dynamics of
contemporary Muslim society.
Keywords:
structural-functional theory, sociology of education, anthropology of
education, Islamic education, social function of education
PENDAHULUAN
Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer
pengetahuan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial dan kultural yang berperan
menjaga keteraturan serta kesinambungan nilai dalam masyarakat. Dalam konteks
pendidikan Islam, lembaga pendidikan berfungsi sebagai ruang internalisasi
nilai keislaman, pembentukan adab, serta pewarisan tradisi keilmuan yang
berakar pada budaya umat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak
dapat dilepaskan dari struktur sosial dan budaya tempat ia berkembang, sehingga
memerlukan pendekatan sosiologis dan antropologis untuk memahaminya secara
utuh.
Teori struktural fungsional memandang masyarakat sebagai suatu
sistem yang terdiri atas bagian-bagian saling terkait dan bekerja sama untuk
menjaga stabilitas sosial. Dalam perspektif ini, pendidikan diposisikan sebagai
institusi sosial yang memiliki fungsi strategis, seperti sosialisasi nilai,
integrasi sosial, dan pembentukan peran individu. Ketika teori ini diterapkan
dalam pendidikan Islam, muncul fenomena menarik mengenai bagaimana nilai agama,
norma sosial, dan tradisi budaya Islam berfungsi menjaga keseimbangan sosial
umat.
Namun, kajian struktural fungsional selama ini lebih banyak
digunakan dalam analisis pendidikan umum dengan pendekatan Barat, sementara
penerapannya dalam konteks sosiologi dan antropologi pendidikan Islam masih
relatif terbatas. Padahal, pendidikan Islam memiliki karakteristik khas yang
tidak hanya menekankan fungsi sosial, tetapi juga dimensi transendental dan
moral. Kondisi ini menandai adanya riset gap antara teori struktural fungsional
dan kajian pendidikan Islam yang bersifat kontekstual dan bernuansa nilai
keagamaan.
Kebaruan,Novelty penelitian ini terletak pada upaya
mengkontekstualisasikan teori struktural fungsional dalam kerangka sosiologi
dan antropologi pendidikan Islam. Penelitian ini tidak sekadar mengadopsi teori
klasik, tetapi mengintegrasikannya dengan konsep-konsep kunci pendidikan Islam
seperti adab, akhlak, dan fungsi pendidikan sebagai penjaga nilai ilahiah dan
sosial sekaligus. Dengan demikian, teori struktural fungsional dipahami secara
lebih relevan dengan realitas masyarakat Muslim.
Riset-riset terdahulu tentang teori struktural fungsional umumnya
lebih banyak digunakan untuk menganalisis pendidikan dalam konteks umum dan
sekuler dengan merujuk pada pemikiran tokoh Barat seperti Émile Durkheim dan
Talcott Parsons. Kajian tersebut menekankan fungsi pendidikan sebagai alat
sosialisasi, integrasi sosial, dan penjaga stabilitas masyarakat, namun belum
sepenuhnya mempertimbangkan dimensi religius dan nilai transendental. Di sisi
lain, penelitian tentang pendidikan Islam cenderung fokus pada aspek
normatif-teologis, kurikulum, atau nilai akhlak, tanpa mengaitkannya secara
mendalam dengan teori sosiologi klasik. Akibatnya, masih terdapat kekosongan
kajian yang mengintegrasikan teori struktural fungsional dengan pendekatan
sosiologi dan antropologi pendidikan Islam secara komprehensif. Riset ini hadir
untuk mengisi celah tersebut dengan menawarkan analisis yang mengaitkan fungsi
sosial pendidikan Islam dengan nilai adab, budaya, dan keseimbangan sosial umat
dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer.
Secara sosiologis dan antropologis, pendidikan Islam dapat
dianalisis sebagai sistem sosial-budaya yang berperan mentransmisikan nilai,
membentuk identitas kolektif, serta menjaga harmoni antara individu dan
masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif
tentang peran pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial, modernisasi,
dan tantangan global, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penopang
stabilitas dan moralitas umat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan ini dipilih karena
fokus kajian diarahkan pada analisis konsep, teori, dan pemikiran para ahli
terkait teori struktural fungsional dalam sosiologi dan antropologi pendidikan,
serta relevansinya dengan pendidikan Islam. Data penelitian bersumber dari
literatur primer dan sekunder berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen
akademik yang membahas sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, serta
pemikiran pendidikan Islam.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur
secara sistematis dengan memanfaatkan database jurnal ilmiah, repositori
perguruan tinggi, dan buku rujukan klasik maupun kontemporer. Literatur yang
dipilih diseleksi berdasarkan relevansi topik, kredibilitas penulis, dan
kontribusinya terhadap pengembangan kajian sosiologi dan antropologi pendidikan
Islam. Seluruh sumber kemudian diklasifikasikan ke dalam tema-tema utama,
seperti fungsi sosial pendidikan, transmisi nilai, stabilitas sosial, dan peran
pendidikan Islam dalam masyarakat.
Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content
analysis) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data yang telah
diklasifikasikan dianalisis secara kritis untuk menemukan pola, keterkaitan
konsep, serta celah penelitian (riset gap) antara teori struktural fungsional
dan praktik pendidikan Islam. Hasil analisis selanjutnya disintesiskan untuk
merumuskan pemahaman komprehensif mengenai fungsi pendidikan Islam sebagai
sistem sosial-budaya yang berperan menjaga keseimbangan sosial dan nilai
keislaman dalam masyarakat.
PEMBAHASAN
· Teori Struktural Fungsional
( Talcott Parsons, Durkheim )
1.
Pengantar
Teori Struktural Fungsional
Teori struktural fungsional merupakan salah satu pendekatan klasik
dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang tersusun
dari berbagai bagian yang saling berkaitan dan memiliki fungsi tertentu. Setiap
unsur dalam masyarakat—seperti keluarga, pendidikan, agama, dan hukum—dipahami
berperan menjaga keteraturan serta keseimbangan sosial. Pendekatan ini
menekankan bahwa keberlangsungan masyarakat bergantung pada sejauh mana setiap
struktur mampu menjalankan fungsinya secara efektif.
Émile Durkheim sebagai pelopor teori ini menekankan pentingnya
solidaritas sosial dalam menjaga keutuhan masyarakat. Menurutnya, masyarakat
memiliki kekuatan yang lebih besar daripada individu, sehingga norma, nilai,
dan aturan sosial berperan mengendalikan perilaku individu agar tercipta
keteraturan. Konsep solidaritas mekanik dan solidaritas organik yang
dikemukakan Durkheim menunjukkan bagaimana masyarakat sederhana hingga modern
tetap bergantung pada keterikatan sosial sebagai fondasi stabilitas. Pemikiran
Durkheim kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Talcott Parsons dengan
pendekatan yang lebih sistematis dan kompleks. Parsons memandang masyarakat
sebagai sebuah sistem sosial yang harus memenuhi empat fungsi utama agar dapat
bertahan, yang dikenal dengan skema AGIL: Adaptation, Goal
Attainment, Integration, dan Latency. Keempat fungsi ini saling melengkapi dan
menjadi prasyarat bagi kelangsungan sistem sosial secara keseluruhan.Dalam
kerangka Parsons, lembaga-lembaga sosial dipahami sebagai subsistem yang
memiliki peran khusus dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Misalnya, sistem
pendidikan berfungsi mentransmisikan nilai dan norma, sementara sistem politik
berperan dalam pencapaian tujuan kolektif.
Dengan demikian, ketertiban sosial tidak terjadi secara kebetulan,
melainkan merupakan hasil dari kerja sistematis antarstruktur sosial.Secara
keseluruhan, teori struktural fungsional Talcott Parsons dan Émile Durkheim
memberikan landasan penting untuk memahami bagaimana masyarakat bekerja sebagai
suatu kesatuan yang terorganisir. Meskipun sering dikritik karena kurang
memperhatikan konflik dan perubahan sosial, teori ini tetap relevan sebagai
alat analisis untuk memahami stabilitas, keteraturan, dan fungsi lembaga sosial
dalam kehidupan bermasyarakat.
2.
Persamaan
dan Perbedaan Pemikiran Durkheim dan Parsons
Émile Durkheim dan Talcott Parsons memiliki persamaan dalam memandang
masyarakat sebagai suatu sistem yang tersusun dari bagian-bagian yang saling
berkaitan dan berfungsi menjaga keteraturan sosial. Keduanya menekankan
pentingnya nilai, norma, dan institusi sosial dalam mengendalikan perilaku
individu demi terciptanya stabilitas dan keseimbangan masyarakat. Baik Durkheim
maupun Parsons melihat pendidikan, agama, dan hukum sebagai lembaga sosial yang
berperan penting dalam proses sosialisasi serta integrasi sosial, sehingga
individu mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat.
Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam pendekatan dan fokus pemikiran
keduanya. Durkheim lebih menekankan konsep fakta sosial dan solidaritas sosial
sebagai kekuatan eksternal yang memengaruhi individu, serta menaruh perhatian
besar pada peralihan dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Sementara
itu, Parsons mengembangkan teori yang lebih sistematis dan abstrak dengan
menempatkan masyarakat sebagai sistem tindakan yang harus memenuhi
fungsi-fungsi tertentu melalui skema AGIL. Parsons juga lebih menekankan peran
struktur dan fungsi dalam menjaga keseimbangan sistem sosial secara menyeluruh
dibandingkan Durkheim yang fokus pada moralitas dan kesadaran kolektif.
·
Teori
Struktural Fungsional dalam Perspektif Antropologi Pendidikan
Teori struktural fungsional dalam perspektif antropologi pendidikan
memandang pendidikan sebagai bagian integral dari sistem kebudayaan dan
struktur sosial suatu masyarakat. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai
proses formal di sekolah, tetapi juga sebagai proses pewarisan nilai, norma,
kepercayaan, dan pola perilaku yang berlangsung melalui keluarga, komunitas,
dan tradisi budaya. Dalam konteks ini, pendidikan berfungsi menjaga
kesinambungan budaya serta membentuk individu agar mampu menyesuaikan diri
dengan struktur sosial tempat ia hidup.
Antropologi pendidikan menekankan bahwa setiap praktik pendidikan
memiliki fungsi sosial tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Melalui
kacamata struktural fungsional, pendidikan dilihat sebagai sarana sosialisasi
yang menanamkan identitas budaya, memperkuat solidaritas sosial, dan
mempersiapkan individu untuk menjalankan peran-peran sosial yang diharapkan.
Kurikulum, metode pembelajaran, dan relasi guru–murid dipahami sebagai bagian
dari sistem yang berfungsi mempertahankan keteraturan sosial dan stabilitas
budaya.
Namun, perspektif ini juga menyadari bahwa fungsi pendidikan dapat
berbeda-beda pada setiap masyarakat, tergantung pada struktur sosial dan
kebudayaannya. Dalam masyarakat tradisional, pendidikan cenderung berfungsi
mempertahankan nilai dan adat istiadat, sedangkan dalam masyarakat modern
pendidikan lebih diarahkan pada pembagian kerja dan spesialisasi. Dengan
demikian, teori struktural fungsional dalam antropologi pendidikan membantu
memahami bagaimana pendidikan bekerja sebagai mekanisme budaya dan sosial yang
menjaga keseimbangan serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.
SIMPULAN
Teori struktural fungsional memandang masyarakat sebagai suatu
sistem yang tersusun dari berbagai struktur sosial yang saling berkaitan dan
memiliki fungsi masing-masing. Setiap unsur dalam masyarakat, seperti keluarga,
pendidikan, agama, dan hukum, berperan menjaga keteraturan, stabilitas, dan
keberlangsungan sistem sosial. Keseimbangan sosial dapat tercapai apabila
setiap struktur mampu menjalankan fungsinya secara optimal sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
Pemikiran Émile Durkheim menekankan pentingnya fakta sosial, nilai,
norma, dan solidaritas sosial sebagai perekat kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Talcott Parsons mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis
dengan melihat masyarakat sebagai sistem tindakan yang harus memenuhi
fungsi-fungsi dasar melalui skema AGIL. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa
keteraturan sosial tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk melalui proses
sosialisasi dan internalisasi nilai dalam lembaga-lembaga sosial.
Dalam konteks pendidikan, teori struktural fungsional menempatkan
pendidikan sebagai subsistem penting yang berfungsi mentransmisikan nilai,
membentuk kepribadian, serta mempersiapkan individu untuk menjalankan peran
sosialnya. Meskipun teori ini sering dikritik karena kurang memberi ruang pada
konflik dan perubahan sosial, pendekatan struktural fungsional tetap relevan
sebagai kerangka analisis untuk memahami peran pendidikan dan lembaga sosial
dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Rahmah, M., Sukino, & Supriyatno, T.
(2024). Teori Sosial Struktural Fungsional dalam Pengembangan Pendidikan
Islam. Tsurayya: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Tersedia PDF: https://jurnal.staimempawah.ac.id/index.php/tsurayya/article/view/137 Jurnal STAI Mempawah
Romli, A., & Nashihin, M. (2024). Urgensi
Teori Sosiologi dalam Pengembangan Pendidikan Agama Islam. Darajat: Jurnal
Pendidikan Agama Islam. DOI: https://doi.org/10.58518/darajat.v7i1.2775 EJurnal IAI Tabah
Juwita, R., Firman, F., Rusdinal, &
Aliman, M. (2020). Meta Analisis: Perkembangan Teori Struktural Fungsional
dalam Sosiologi Pendidikan. Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan
Pendidikan. PDF: https://perspektif.ppj.unp.ac.id/index.php/perspektif/article/download/168/102 Perspektif
Rusydi Rasyid,
M. (2025). Pendidikan dalam Perspektif Teori Sosiologi. Auladuna: Jurnal
Pendidikan Dasar Islam. Link abstrak: https://arsip-journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/auladuna/article/view/882 Arsip Jurnal UIN Alauddin
Arifin, Z.
(2025). Sociological Approaches in Islamic Education Study. Studia
Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam. DOI:
https://doi.org/10.30651/sr.v4i1.5055 Jurnal UM Surabaya
Teori
Struktural-Fungsional (UIN Kediri) – Bab teori
dengan penjelasan klasik (PDF): https://etheses.iainkediri.ac.id/1819/3/933703815%20bab2.pdf Sosiologi79
Buku Sosiologi
Pendidikan Islam – PDF (slide/pdf
materi): https://www.slideshare.net/slideshow/buku-sosiologi-pendidikan-islampdf/252135030 www.slideshare.net
Islamization of
Knowledge (Ismail al-Faruqi & AbuSulayman) – Wikipedia (ringkasan buku penting terkait integrasi nilai Islam
dalam pendidikan): https://en.wikipedia.org/wiki/Islamization_of_Knowledge_%28book%29

