Senin, 05 Januari 2026

Teori Struktural Fungsional Ditinjau dari Sosiologi Antropologi Pendidikan Islam

 

TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL

Lintang Rasti Jauza

Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai

E -mail: lintangrstjauza28@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengkaji teori struktural fungsional dalam pendekatan sosiologi dan antropologi pendidikan dengan meninjau konteks pendidikan Islam, khususnya dalam memahami peran lembaga pendidikan sebagai sistem sosial yang menjaga keteraturan, nilai, dan keberlanjutan budaya Islam. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis karya klasik dan kontemporer sosiologi–antropologi pendidikan serta literatur pendidikan Islam. Novelty penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan teori struktural fungsional Barat dengan konsep pendidikan Islam seperti adab, nilai moral, dan fungsi sosial pendidikan sebagai pembentuk insan berakhlak. Riset gap yang ditemukan adalah masih terbatasnya kajian yang secara eksplisit mengaitkan teori struktural fungsional dengan perspektif sosiologi antropologi pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam berfungsi sebagai agen sosialisasi, transmisi nilai, dan penjaga keseimbangan sosial umat. Rekomendasinya, teori ini perlu dikontekstualisasikan secara kritis agar relevan dengan dinamika masyarakat Muslim kontemporer.

Kata kunci: struktural fungsional, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, pendidikan Islam, fungsi sosial pendidikan

 

Abstract

This study aims to examine structural-functional theory within the sociological and anthropological approaches of education by examining the context of Islamic education, particularly in understanding the role of educational institutions as social systems that maintain order, values, and the sustainability of Islamic culture. The method used is library research, analyzing classical and contemporary works on the sociology and anthropology of education, as well as Islamic education literature. The novelty of this research lies in its attempt to integrate Western structural-functional theory with Islamic educational concepts such as adab (ethics), moral values, and the social function of education in shaping moral individuals. The research gap identified is the limited number of studies that explicitly link structural-functional theory with the sociological and anthropological perspective of Islamic education. The results indicate that Islamic education functions as an agent of socialization, transmitting values, and maintaining social balance within the community. It is recommended that this theory be critically contextualized to ensure its relevance to the dynamics of contemporary Muslim society.

Keywords: structural-functional theory, sociology of education, anthropology of education, Islamic education, social function of education

PENDAHULUAN

Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial dan kultural yang berperan menjaga keteraturan serta kesinambungan nilai dalam masyarakat. Dalam konteks pendidikan Islam, lembaga pendidikan berfungsi sebagai ruang internalisasi nilai keislaman, pembentukan adab, serta pewarisan tradisi keilmuan yang berakar pada budaya umat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial dan budaya tempat ia berkembang, sehingga memerlukan pendekatan sosiologis dan antropologis untuk memahaminya secara utuh.

Teori struktural fungsional memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri atas bagian-bagian saling terkait dan bekerja sama untuk menjaga stabilitas sosial. Dalam perspektif ini, pendidikan diposisikan sebagai institusi sosial yang memiliki fungsi strategis, seperti sosialisasi nilai, integrasi sosial, dan pembentukan peran individu. Ketika teori ini diterapkan dalam pendidikan Islam, muncul fenomena menarik mengenai bagaimana nilai agama, norma sosial, dan tradisi budaya Islam berfungsi menjaga keseimbangan sosial umat.

Namun, kajian struktural fungsional selama ini lebih banyak digunakan dalam analisis pendidikan umum dengan pendekatan Barat, sementara penerapannya dalam konteks sosiologi dan antropologi pendidikan Islam masih relatif terbatas. Padahal, pendidikan Islam memiliki karakteristik khas yang tidak hanya menekankan fungsi sosial, tetapi juga dimensi transendental dan moral. Kondisi ini menandai adanya riset gap antara teori struktural fungsional dan kajian pendidikan Islam yang bersifat kontekstual dan bernuansa nilai keagamaan.

Kebaruan,Novelty penelitian ini terletak pada upaya mengkontekstualisasikan teori struktural fungsional dalam kerangka sosiologi dan antropologi pendidikan Islam. Penelitian ini tidak sekadar mengadopsi teori klasik, tetapi mengintegrasikannya dengan konsep-konsep kunci pendidikan Islam seperti adab, akhlak, dan fungsi pendidikan sebagai penjaga nilai ilahiah dan sosial sekaligus. Dengan demikian, teori struktural fungsional dipahami secara lebih relevan dengan realitas masyarakat Muslim.

Riset-riset terdahulu tentang teori struktural fungsional umumnya lebih banyak digunakan untuk menganalisis pendidikan dalam konteks umum dan sekuler dengan merujuk pada pemikiran tokoh Barat seperti Émile Durkheim dan Talcott Parsons. Kajian tersebut menekankan fungsi pendidikan sebagai alat sosialisasi, integrasi sosial, dan penjaga stabilitas masyarakat, namun belum sepenuhnya mempertimbangkan dimensi religius dan nilai transendental. Di sisi lain, penelitian tentang pendidikan Islam cenderung fokus pada aspek normatif-teologis, kurikulum, atau nilai akhlak, tanpa mengaitkannya secara mendalam dengan teori sosiologi klasik. Akibatnya, masih terdapat kekosongan kajian yang mengintegrasikan teori struktural fungsional dengan pendekatan sosiologi dan antropologi pendidikan Islam secara komprehensif. Riset ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menawarkan analisis yang mengaitkan fungsi sosial pendidikan Islam dengan nilai adab, budaya, dan keseimbangan sosial umat dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer.

Secara sosiologis dan antropologis, pendidikan Islam dapat dianalisis sebagai sistem sosial-budaya yang berperan mentransmisikan nilai, membentuk identitas kolektif, serta menjaga harmoni antara individu dan masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial, modernisasi, dan tantangan global, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penopang stabilitas dan moralitas umat.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan ini dipilih karena fokus kajian diarahkan pada analisis konsep, teori, dan pemikiran para ahli terkait teori struktural fungsional dalam sosiologi dan antropologi pendidikan, serta relevansinya dengan pendidikan Islam. Data penelitian bersumber dari literatur primer dan sekunder berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen akademik yang membahas sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, serta pemikiran pendidikan Islam.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur secara sistematis dengan memanfaatkan database jurnal ilmiah, repositori perguruan tinggi, dan buku rujukan klasik maupun kontemporer. Literatur yang dipilih diseleksi berdasarkan relevansi topik, kredibilitas penulis, dan kontribusinya terhadap pengembangan kajian sosiologi dan antropologi pendidikan Islam. Seluruh sumber kemudian diklasifikasikan ke dalam tema-tema utama, seperti fungsi sosial pendidikan, transmisi nilai, stabilitas sosial, dan peran pendidikan Islam dalam masyarakat.

Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data yang telah diklasifikasikan dianalisis secara kritis untuk menemukan pola, keterkaitan konsep, serta celah penelitian (riset gap) antara teori struktural fungsional dan praktik pendidikan Islam. Hasil analisis selanjutnya disintesiskan untuk merumuskan pemahaman komprehensif mengenai fungsi pendidikan Islam sebagai sistem sosial-budaya yang berperan menjaga keseimbangan sosial dan nilai keislaman dalam masyarakat.

PEMBAHASAN

·   Teori Struktural Fungsional ( Talcott Parsons, Durkheim )

 

1.      Pengantar Teori Struktural Fungsional

Teori struktural fungsional merupakan salah satu pendekatan klasik dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang tersusun dari berbagai bagian yang saling berkaitan dan memiliki fungsi tertentu. Setiap unsur dalam masyarakat—seperti keluarga, pendidikan, agama, dan hukum—dipahami berperan menjaga keteraturan serta keseimbangan sosial. Pendekatan ini menekankan bahwa keberlangsungan masyarakat bergantung pada sejauh mana setiap struktur mampu menjalankan fungsinya secara efektif.

Émile Durkheim sebagai pelopor teori ini menekankan pentingnya solidaritas sosial dalam menjaga keutuhan masyarakat. Menurutnya, masyarakat memiliki kekuatan yang lebih besar daripada individu, sehingga norma, nilai, dan aturan sosial berperan mengendalikan perilaku individu agar tercipta keteraturan. Konsep solidaritas mekanik dan solidaritas organik yang dikemukakan Durkheim menunjukkan bagaimana masyarakat sederhana hingga modern tetap bergantung pada keterikatan sosial sebagai fondasi stabilitas. Pemikiran Durkheim kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Talcott Parsons dengan pendekatan yang lebih sistematis dan kompleks. Parsons memandang masyarakat sebagai sebuah sistem sosial yang harus memenuhi empat fungsi utama agar dapat bertahan, yang dikenal dengan skema AGIL: Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency. Keempat fungsi ini saling melengkapi dan menjadi prasyarat bagi kelangsungan sistem sosial secara keseluruhan.Dalam kerangka Parsons, lembaga-lembaga sosial dipahami sebagai subsistem yang memiliki peran khusus dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Misalnya, sistem pendidikan berfungsi mentransmisikan nilai dan norma, sementara sistem politik berperan dalam pencapaian tujuan kolektif.

Dengan demikian, ketertiban sosial tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari kerja sistematis antarstruktur sosial.Secara keseluruhan, teori struktural fungsional Talcott Parsons dan Émile Durkheim memberikan landasan penting untuk memahami bagaimana masyarakat bekerja sebagai suatu kesatuan yang terorganisir. Meskipun sering dikritik karena kurang memperhatikan konflik dan perubahan sosial, teori ini tetap relevan sebagai alat analisis untuk memahami stabilitas, keteraturan, dan fungsi lembaga sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

 

2.      Persamaan dan Perbedaan Pemikiran Durkheim dan Parsons

Émile Durkheim dan Talcott Parsons memiliki persamaan dalam memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang tersusun dari bagian-bagian yang saling berkaitan dan berfungsi menjaga keteraturan sosial. Keduanya menekankan pentingnya nilai, norma, dan institusi sosial dalam mengendalikan perilaku individu demi terciptanya stabilitas dan keseimbangan masyarakat. Baik Durkheim maupun Parsons melihat pendidikan, agama, dan hukum sebagai lembaga sosial yang berperan penting dalam proses sosialisasi serta integrasi sosial, sehingga individu mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat. 

Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam pendekatan dan fokus pemikiran keduanya. Durkheim lebih menekankan konsep fakta sosial dan solidaritas sosial sebagai kekuatan eksternal yang memengaruhi individu, serta menaruh perhatian besar pada peralihan dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Sementara itu, Parsons mengembangkan teori yang lebih sistematis dan abstrak dengan menempatkan masyarakat sebagai sistem tindakan yang harus memenuhi fungsi-fungsi tertentu melalui skema AGIL. Parsons juga lebih menekankan peran struktur dan fungsi dalam menjaga keseimbangan sistem sosial secara menyeluruh dibandingkan Durkheim yang fokus pada moralitas dan kesadaran kolektif.

·         Teori Struktural Fungsional dalam Perspektif Antropologi Pendidikan

Teori struktural fungsional dalam perspektif antropologi pendidikan memandang pendidikan sebagai bagian integral dari sistem kebudayaan dan struktur sosial suatu masyarakat. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses formal di sekolah, tetapi juga sebagai proses pewarisan nilai, norma, kepercayaan, dan pola perilaku yang berlangsung melalui keluarga, komunitas, dan tradisi budaya. Dalam konteks ini, pendidikan berfungsi menjaga kesinambungan budaya serta membentuk individu agar mampu menyesuaikan diri dengan struktur sosial tempat ia hidup.

Antropologi pendidikan menekankan bahwa setiap praktik pendidikan memiliki fungsi sosial tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Melalui kacamata struktural fungsional, pendidikan dilihat sebagai sarana sosialisasi yang menanamkan identitas budaya, memperkuat solidaritas sosial, dan mempersiapkan individu untuk menjalankan peran-peran sosial yang diharapkan. Kurikulum, metode pembelajaran, dan relasi guru–murid dipahami sebagai bagian dari sistem yang berfungsi mempertahankan keteraturan sosial dan stabilitas budaya.

Namun, perspektif ini juga menyadari bahwa fungsi pendidikan dapat berbeda-beda pada setiap masyarakat, tergantung pada struktur sosial dan kebudayaannya. Dalam masyarakat tradisional, pendidikan cenderung berfungsi mempertahankan nilai dan adat istiadat, sedangkan dalam masyarakat modern pendidikan lebih diarahkan pada pembagian kerja dan spesialisasi. Dengan demikian, teori struktural fungsional dalam antropologi pendidikan membantu memahami bagaimana pendidikan bekerja sebagai mekanisme budaya dan sosial yang menjaga keseimbangan serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.

 

 

SIMPULAN

 

Teori struktural fungsional memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang tersusun dari berbagai struktur sosial yang saling berkaitan dan memiliki fungsi masing-masing. Setiap unsur dalam masyarakat, seperti keluarga, pendidikan, agama, dan hukum, berperan menjaga keteraturan, stabilitas, dan keberlangsungan sistem sosial. Keseimbangan sosial dapat tercapai apabila setiap struktur mampu menjalankan fungsinya secara optimal sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pemikiran Émile Durkheim menekankan pentingnya fakta sosial, nilai, norma, dan solidaritas sosial sebagai perekat kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, Talcott Parsons mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dengan melihat masyarakat sebagai sistem tindakan yang harus memenuhi fungsi-fungsi dasar melalui skema AGIL. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa keteraturan sosial tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai dalam lembaga-lembaga sosial.

Dalam konteks pendidikan, teori struktural fungsional menempatkan pendidikan sebagai subsistem penting yang berfungsi mentransmisikan nilai, membentuk kepribadian, serta mempersiapkan individu untuk menjalankan peran sosialnya. Meskipun teori ini sering dikritik karena kurang memberi ruang pada konflik dan perubahan sosial, pendekatan struktural fungsional tetap relevan sebagai kerangka analisis untuk memahami peran pendidikan dan lembaga sosial dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 Rahmah, M., Sukino, & Supriyatno, T. (2024). Teori Sosial Struktural Fungsional dalam Pengembangan Pendidikan Islam. Tsurayya: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Tersedia PDF: https://jurnal.staimempawah.ac.id/index.php/tsurayya/article/view/137 Jurnal STAI Mempawah

 Romli, A., & Nashihin, M. (2024). Urgensi Teori Sosiologi dalam Pengembangan Pendidikan Agama Islam. Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam. DOI: https://doi.org/10.58518/darajat.v7i1.2775 EJurnal IAI Tabah

 Juwita, R., Firman, F., Rusdinal, & Aliman, M. (2020). Meta Analisis: Perkembangan Teori Struktural Fungsional dalam Sosiologi Pendidikan. Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan. PDF: https://perspektif.ppj.unp.ac.id/index.php/perspektif/article/download/168/102 Perspektif

Rusydi Rasyid, M. (2025). Pendidikan dalam Perspektif Teori Sosiologi. Auladuna: Jurnal Pendidikan Dasar Islam. Link abstrak: https://arsip-journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/auladuna/article/view/882 Arsip Jurnal UIN Alauddin

Arifin, Z. (2025). Sociological Approaches in Islamic Education Study. Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam. DOI: https://doi.org/10.30651/sr.v4i1.5055 Jurnal UM Surabaya

Teori Struktural-Fungsional (UIN Kediri) – Bab teori dengan penjelasan klasik (PDF): https://etheses.iainkediri.ac.id/1819/3/933703815%20bab2.pdf Sosiologi79

Buku Sosiologi Pendidikan Islam – PDF (slide/pdf materi): https://www.slideshare.net/slideshow/buku-sosiologi-pendidikan-islampdf/252135030 www.slideshare.net

Islamization of Knowledge (Ismail al-Faruqi & AbuSulayman) – Wikipedia (ringkasan buku penting terkait integrasi nilai Islam dalam pendidikan): https://en.wikipedia.org/wiki/Islamization_of_Knowledge_%28book%29

 

Teori Struktural Fungsional Ditinjau dari Sosiologi Antropologi Pendidikan Islam

  TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL Lintang Rasti Jauza Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai E -mail: lintangrstjauza28@gmail.com   ...